Belajar menulis gelombang
2 bersama Om Jay (Wijaya Kusumah)
Pertemuan online ke 17
Resume :
Konsep Menyunting (Editing)
Nara Sumber
: Much. Khoiri
Oleh :
Tuti Agiawati
Untuk yang belum kenal,
mohon izin saya memperkenalkan diri, saya Much. Khoiri, penggerak literasi, dosen
menulis kreatif, editor, dan penulis 43 buku dari Universitas Negeri Surabaya
(Unesa). Bagi yang sudah kenal, selamat berjumpa lagi di forum yang bahagia
ini.Begitu sapaan pembuka nara sumber
kita kali ini, belajar menulis online gelombang 2 bersama Omjay
Materi yang di berikan yaitu konsep menyunting
(editing), mengapa perlu menyunting, apa yang disunting, dan bagaimana
melakukannya, baik untuk karya sendiri maupun karya orang lain. Pak Khoiri
memberikan artikel yang berjudul “MENYUNTING TULISAN” dan peserta belajar
menulis online di beri kesempatan untuk memberikan respon artikel yang
diberikan Beliau. Inilah Artikel nya.
Serial 'Teori' Menulis (30)
MENYUNTING TULISAN
Oleh MUCH. KHOIRI
Jika kita sudah membuat draf pertama tulisan kita,
tugas menulis kita belumlah selesai. Ada satu langkah penting lagi dalam proses
menulis, yakni menyunting (editing) draf atau naskah tulisan kita. Nah, apa
yang perlu kita lakukan dalam menyunting naskah?
Kita harus baca ulang draf kitamungkin tidak hanya
cukup sekali, bisa dua atau tiga kali. Dalam hal ini kita harus berdiri sebagai
pembaca, dan karena itu harus objektif memberikan penilaian. Intinya, proses
membaca naskah sendiri ini untuk menemukan kekurangan atau kelebihan dari draf
kitabaik menyangkut ide, pengorganisasian, maupun penggunaan bahasa.
Secara umum kita bisa bisa menambahkan variasi,
penekanan, koherensi, transisi, dan detail (rincian). Kita juga bisa mengurangi
kalimat bertele-tele (mubasir), irelevansi, dan inkonsistensi. Bagaimana
praktiknya?
Terkait dengan penyuntingan ide, jika kekurangan
keluasan dan kedalaman, kita harus menyisipkan atau menambahkan ide ke
dalamnya. Misalnya, kita belum memasukkan contoh, kasus, kutipan, anekdot, dan
sebagainya; karena itu, kita harus segera melunasi semua kekurangan itu.
Sementara itu, jika naskah kita kelebihan ide,
misalnya terlalu rinci, atau terlalu banyak contoh kasus, kita harus segera
menyeleksi mana yang paling relevan dengan topik bahasan. Selain itu, mungkin
contoh-contoh yang kita ajukan tidak relevan; dan karena itulah, mereka harus
diganti contoh yang baru dan relevan.
Pengorganisasian ide tidak kalah pentingnya. Kita
cermati bagian-bagian tulisan, apakah sudah ada pembuka yang memikat,
penjelasan atau uraian yang proporsial, dan penutup yang mengesankan atau
mengejutkan? Mungkin ketiga bagian ini tak berlaku kaku untuk puisi. Namun,
hakikatnya, sebagaimana siklus hidup, tulisan seharusnya mengandung ketiga
bagian itu.
Selain itu, sudah runtutkah ide-ide yang kita tuangkan
di dalam naskah kita? Apakah klasifikasi ide telah tercermin di dalam tulisan?
Apakah sudah ada kepaduan dari keseluruhan ide? Apa lagi yang masih perlu
ditambahkan atau dikurangi? Pertanyaan semacam ini perlu dikemukakan saat
mencermati pengorganisasian tulisan.
Menyunting juga perlu membenahi penggunaan bahasa yang
kita gunakan di dalam draf kita. Pertama hubungan subjek-predikat, kemudian
pemilihan kata (diksi), dan penggunaan konteks yang tepat. Tentu saja, kita
harus selalu berusaha untuk menggunakan kalimat-kalimat efektif, bukan hanya
untuk melancarkan penyampaian maksud, melainkan juga untuk menunjukkan
kecintaan kita berbahasa Indonesia.
Lebih lanjut, proses penyuntingan juga diarahkan untuk
membenahi ejaan, tanda baca, dan mekanika (tata tulis) tulisan. Nama orang,
instansi, organisasi, kota, dan sebagainya harus dimulai dengan huruf kapital.
Ada aturan-aturan main yang harus ditaati bersama, agar tertib berbahasa bisa
diwujudkan.
Singkatnya, revisi dan menyunting dimaksudkan untuk
memoles, mengasah, melengkapi, menyempurnakan naskah, baik isi (content) maupun
struktur pengembangan. Tak terlewatkan adalah membenahi mekanika (tata tulis),
tata bahasa, diksi, ejaanhingga akurasi karya pun akan tampak meyakinkan.
Dengan demikian, menyunting itu bukan pekerjaan mudah. Kita perlu membekali
diri dengan pengetahuan kebahasaan intralinguistik dan ekstra linguistik, agar
hasil suntingan kita memenuhi standar penyuntingan. Yang terpenting lagi,
melakukan penyuntingan!
Setelah mencoret-coret, memotong, menambah, atau
melengkapi draf kita, maka tibalah saatnya kita menyempurnakan draf itu.
Penyempurnaan draf dilakukanbisa ditambah dengan membaca-ulangguna memperoleh
draf final yang siap diserahkan atau dikirimkan kepada pembaca lain.
Dalam mengerjakan penyuntingan, sangat boleh jadi
bahwa kita akan mendapati perbedaan-perbedaan antara draf awal dan draf
finalentah isi maupun organisasi dan bahasanya. Jangan panik; itu wajar.
Maksudnya, saat kita menyunting, kita bisa berpikir lebih baik dibanding saat
menulis draf awaldan karena itu, kita berpeluang membenahinya.
Saya pernah membaca sebuah buku bagus berjudul In
Transitions (1990) yang memuat draf-draf awal penulis hebat dunia. Draf-draf
itu masih penuh coretan, koreksi, dan sisipanbaik bentuk (struktur generik)
maupun isi (ide, gagasan). Ada proses penyuntingan di sana.
Ketika saya bandingkan draf yang ada di dalam buku In
Transitions dengan draf final di buku lain (buku referensi mengajar), terdapat
perbedaan yang signifikan. Para penulis telah merevisi (menyunting) bentuk dan
isi karya mereka. Artinya, para penulis kelas dunia pun juga menempuh
pembelajaran untuk memperbaiki karya mereka.
Jadi, begitulah, bagi penulis, menyunting itu bagian
tak terpisahkan dengan pembuatan draf (drafting). Jika ada penulis enggan
melakukannya, itu semata akibat kepercayaan diri yang terlalu besar akan
kelayakan karya yang telah dihasilkannya. Padahal, soal kualitas tulisan
bukanlah kita sendiri yang menilainya, melainkan masyarakat pembaca.
Jadi, Mengapa perlu
menyunting? Karena draf naskah tulisan memang belum dianggap selesai atau
final, masing ada kemungkinan kekurangan sana-sini. Harus dibaca ulang
draf kita mungkin tidak hanya cukup sekali, bisa dua atau tiga kali. Dalam hal
ini kita harus berdiri sebagai pembaca, dan karena itu harus objektif
memberikan penilaian.
Apa saja yang perlu diedit atau
disunting? Secara umum kita bisa bisa
menambahkan variasi, penekanan, koherensi, transisi, dan detail (rincian). Kita
juga bisa mengurangi kalimat bertele-tele (mubasir), irelevansi, dan
inkonsistensi. Dengan kalimat lain, penyuntingan berfokus pada tiga unsur,
yakni bobot ide, pengorganisasian ide ke dalam tulisan, dan penggunaan bahasa.
Jika editor mendapat tulisan yang kurang proporsional,
terlalu.bertele-tele. Tetapi saat diedit
penulisnya berkeberatan,perlu disepakati sejak awal. Apa saja yang boleh
dan tidak boleh. Jika apa-apa tidak
boleh, ya editing dikembalikan ke beliau sendiri.
Kalau kita sebagai penulis
pemula, yang tidak punya kemampuan memadai untuk melakukan editing? Ke depan,
penulis juga harus belajar menjadi editor, seiring perjalanan waktu. Tapi untuk
smentara, silakan mencari editor (profesional), setidaknya teman bahasa yang
tahu banyak tentang kompetensi editor. Minta tolong beliau untuk melakukan editing,
kemudian minta beliau untuk menunjukkan perbedaan antara teks asli dan teks
editan. Dari situlah kita belajar, sedikit demi sedikit.
Resep tulisan yang bagus dan
diminati yaitu menguasai materi yang
hendak ditulis,ini syarat mutlak. Tentang bagaimana-nya, itu masalah teknis.
Dan teknis itu bisa kita latih berulang kali. Makin banyak latihan, tulisan
kita akan makin lancar dan kriuk.
Prosentasi editing oleh editor Bergantung "seberapa
baik" naskah yg ada, Yang jelas,
konten jadi hak penuh penulis. kita membantu memuluskan komunikasi konten ke
pembaca. Karena itu, editor lebih banyak konsen pada pengorganisasian ide dan
penggunaan bahasa.
Intinya, kita tidak berhak
mengubah maksud atau konten. Jika kita ragu-ragu tentang konten, ada baiknya kita
tanyakan ke penulis.kkerap kali editor menemukan naskah yang bikin kepala cenut-cenut akibat bahasa yg
menggemaskan. Logika juga kurang tertata. Jadi, editor membantu menatakan.
Lalu, hasilnya dikirimkan ke penulis untuk dicek dan dibandingkan dengan naskah
aslinya.
Cara mengedit tulisan yaitu baca dulu seluruh teks untuk memahami konten
secara umum. Ini review konten. Setelah itu, menandai mana yang perlu ditata
dan direvisi. Kemudian, dilakukan editing mulai awal hingga akhir. Setelah itu,
perlu proofreading (ngecek tata tulis, mungkin terlewatkan; juga tanda baca,
ejaan, dsb.)Kalau sudah terbiasa, semua review bisa lebih cepat. Terlebih jika
paham ilmu dari konten dalam buku tersebut.Mengedit naskah sesuai dengan kaidah genre tulisan yang ada.
Bikin esei, ada kaidah bikin esei. Bikin cerpen, ada kaidah bikin ceepen.
Begitu pula puisi.Kalau mengedit puisi, harus tahu kaidah bikin puisi yang
baik, perlu ada rima, ritma, majas, simbol, dsb..
Sebagai penulis, setidaknya kita
memahami bagaimna menulis kalimat sederhana.
cek setelah selesai menulis, apakah kalimat-kalimat yang ada sudah ada subjek-predikatnya. Ini
tantangan.Tapi jika belum bisa melakukan sendiri, ya ada baiknya minta tolong
editor, dan minta utk menunjukkan perbedaan antara teks asli dan teks editan.
Cari editor yg mau memberi masukan ke tulisan, dan menunjukkan kelemahan dan kelebihan
tulisan. Dari situ akan belajar bagaimana
mengedit tulisan.Ada dua lapis dalam tim saya, bergantung pd "parah"
tidaknya naskah. Jika tidak parah, ya cukup satu lapis. Jika parah, dua lapis
perlu dijalankan. Lapis kasar itu yang mengedit mulai konten, pengorganisasian,
dan bahasa secara umum. Lapis halusnya yang akan memfinalkannya .Syarat editor
itu sebenarnya tingkat kemahiran tertentu jika dites denga UKBI (Uji Kemahiran
Bahasa Indonesia), demikian pun jadi editor Bahasa Inggris atau yang lain. Pak
Khoir bisa mengedit naskah bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris.
Jika editing menganggu proses menulis, sementara jangan pikirkan editing. Fokus ke menulis.
Nanti editing serahkan ke ahlinya. Menyunting atau editing perlu dilakukan
terhadap naskah atau tulisan, sebelum disajikan ke pembaca. Menyunting tentu
bisa dilakukan pada naskah sendiri maupun naskah orang lain. Karena itu,
penulis yang baik ya perlu berlatih menjadi editor, untuk karya sendiri dan
(jika perlu) untuk karya orang lain.
Saat menyunting, fokus pada
konten, pengorganisasian, dan penggunaan bahasa. Namun, konten tidak boleh
banyak diubah. Editor lebih berhak membantu pengorganisasian ide dan penggunaan
bahasa. Tentu, editor harus tahu benar substansi konten dan struktur tulisan
yang seharusnya. Tentu saja, kemampuan ini semuanya bisa dilatih, baik dengan
bimbingan mentor maupun dengan otodidak. Editing lah yang membuat tulisan siap
disajikan ke pembaca. Jika editing berhasil, pesan penulis lebih mudah sampai
ke pembaca. Semoga kita enteng hati untuk belajar menjadi editor, sekurangnya
untuk naskah diri sendiri.
Kalimat terakhir yang di
sampaikan beliau dalam menutup materi yaitu semoga apa yang
disampaikan bermanfaat. Aamiin






