Rabu, 26 Februari 2020

Tragedi susur sungai


 Melihat berita di televisi tentang kegiatan pramuka susur sungai membuat saya prihatin dan  menahan napas panjang. Di satu sisi itu adalah kegiatan pembentukan karakter, dan kegiatan yang sudah biasa dilaksanakan.Namun di sisi lain juga saya merasakan betapa sedihnya jika kehilangan orang yang kita sayangi. Namun tidak ada yang menginginkan musibah ini terjadi.Semua sudah Allah tuliskan di ‘Lauhul Mahfudzz”.
Orang tua  siswa yang terkena musibah itu  pasrah dan menyerahkan semuanya pada proses hukum. Namun hukum tetaplah hukumyang harus dijalani. Mendengar kata tersnagka saja saya sudah merinding. Karena ini berbeda dengan tersangka dengan kasus –kasus lain yang di proses oleh hukum. Tapi kenyatannya tersangka dalam kasus ini terlihat menyesakkan dada saya. Kenapa tidak, tak terasa air mata saya berlinang, mereka adalah teman –teman seperjuangan kita sebagai guru . yang notabene bertugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Mereka pun tidak ingin peristiwa ini terjadi. Mereka di perlakukan  sama seperti penjahat yang luar biasa  dengan baju pesakitan dan kepala pelontos. Namun coba kita lihat Pengedar narkoba yang jelas –jelas merusak generasi bangsa mereka ditempatkan lebih layak bahkan bisa memasok narkoba di dalam lapas. Bisa kita lihat foto-foto yang beredar dan viral begitu jauh perbedaanya.Begitu juga orang yang korupsi mereka melambaikan tangan dengan senyuman dibibirnya.Sepertinya kalau melihat seperti ini, tak adil. Karena peristiwa ini merupakan musibah. Dan siapaun tak ingin ada dalam kondisi seperti ini.

Polres Sleman mengumumkan tiga tersangka kegiatan Pramuka Susur Sungai SMPN 1 Turi. Diantara mereka hampir mendekati pensiun, Tidak pernah terpikirkan  bahwa akan ada kejadian seperti ini. Walaupun mereka memiliki  sertifikat kursus mahir dasar (KMD), namun Ketiganya dianggap lalai sehingga menyebabkan kegiatan susur sungai yang digelar di Sungai Sempor berakhir tragedi. Pada peristiwa itu 10 pelajar meninggal dunia terseret arus.  Para guru ini dengan penuh tanggung jawab di depan awak media di Polres Sleman,  mengakui kelalaian , dan lantas meminta maaf. Dengan  mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada instansi saya SMPN 1 Turi karena atas kelalaian, terjadi hal seperti ini, dan  menyesali serta  memohon maaf kepada keluarga korban terutama kepada korban yang sudah meninggal.. Apa yang dia alami sekarang adalah risiko yang harus ditanggung dan diterima. Begitulah jiwa satria pramuka dan seorang guru. Apakah semua ini akan meringankan hukuman yang diterima?. Saya berdoa semoga dapat meringaknkan hukuman yang diterima.dan permaslahannya selesai.  
Mudah-mudahan Organisasi guru baik itu PGRI maupun IGI tidak tinggal diam melihat semua ini. Begitu Juga Organisasi kepramukaan.
Tragedi susur sungai menjadi pelajaran yang berharga bagi kita khususnya guru dan pembina pramuka. Namun jangan sampai menyurutkan para siswa untuk mengikuti kegiatan pramuka.  Pramuka kegiatan yang banyak manfaatnya. Dari pendidikan karakter sampai seni budaya ada pada organisasi ini. Semoga pihak aparat dan hukum akan mempertimbangkannya. Lali dalam bertugas berbeda dengan kejahatan yang direncanakan  #Save bapak guru dan pembina pramuka SMPN  1 Turi Sleman. Semoga diberikan yang terbaik, dan keadilanpun di tegakkan . kepad orang tua siswa yang terkena musibah semoga di beri kesabaran, dan ketabahan karean pada dasrnya kita semua akan kembali pada yang kuasa hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, entai bagaimana jalannya. Semoga kita kembali padanya dalam keadaan husnul khotimah, aamiin.

3 komentar:

  1. Itulah hukum di negeri ini... Tumpul ke atas dan tajam ke bawah... Belum ada keadilan. Padahal PGRI sudah mengadakan MoU dg kepolisian utk melindungi guru. Tapi nyatanya? @save guru
    @save pembina pramuka

    BalasHapus
  2. Jalani saja sesuai proses Tuhan melindungi para guru

    BalasHapus