Melihat berita di televisi tentang kegiatan
pramuka susur sungai membuat saya prihatin dan
menahan napas panjang. Di satu sisi itu adalah kegiatan pembentukan
karakter, dan kegiatan yang sudah biasa dilaksanakan.Namun di sisi lain juga
saya merasakan betapa sedihnya jika kehilangan orang yang kita sayangi. Namun
tidak ada yang menginginkan musibah ini terjadi.Semua sudah Allah tuliskan di ‘Lauhul
Mahfudzz”.
Orang tua siswa yang terkena musibah itu pasrah dan menyerahkan semuanya pada proses
hukum. Namun hukum tetaplah hukumyang harus dijalani. Mendengar kata tersnagka
saja saya sudah merinding. Karena ini berbeda dengan tersangka dengan kasus –kasus
lain yang di proses oleh hukum. Tapi kenyatannya tersangka dalam kasus ini
terlihat menyesakkan dada saya. Kenapa tidak, tak terasa air mata saya
berlinang, mereka adalah teman –teman seperjuangan kita sebagai guru . yang
notabene bertugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Mereka pun tidak ingin
peristiwa ini terjadi. Mereka di perlakukan sama seperti penjahat yang luar biasa dengan baju pesakitan dan kepala pelontos.
Namun coba kita lihat Pengedar narkoba yang jelas –jelas merusak generasi
bangsa mereka ditempatkan lebih layak bahkan bisa memasok narkoba di dalam lapas.
Bisa kita lihat foto-foto yang beredar dan viral begitu jauh perbedaanya.Begitu
juga orang yang korupsi mereka melambaikan tangan dengan senyuman dibibirnya.Sepertinya
kalau melihat seperti ini, tak adil. Karena peristiwa ini merupakan musibah.
Dan siapaun tak ingin ada dalam kondisi seperti ini.
Polres Sleman mengumumkan tiga tersangka
kegiatan Pramuka Susur Sungai SMPN 1 Turi. Diantara mereka hampir mendekati
pensiun, Tidak pernah terpikirkan bahwa
akan ada kejadian seperti ini. Walaupun mereka memiliki sertifikat kursus mahir dasar (KMD), namun Ketiganya
dianggap lalai sehingga menyebabkan kegiatan susur sungai yang digelar di
Sungai Sempor berakhir tragedi. Pada peristiwa itu 10 pelajar meninggal dunia
terseret arus. Para guru ini dengan penuh
tanggung jawab di depan awak media di Polres Sleman, mengakui kelalaian , dan lantas meminta maaf.
Dengan mengucapkan permohonan maaf yang
sebesar-besarnya kepada instansi saya SMPN 1 Turi karena atas kelalaian, terjadi
hal seperti ini, dan menyesali serta memohon maaf kepada keluarga korban terutama
kepada korban yang sudah meninggal.. Apa yang dia alami sekarang adalah risiko
yang harus ditanggung dan diterima. Begitulah jiwa satria pramuka dan seorang
guru. Apakah semua ini akan meringankan hukuman yang diterima?. Saya berdoa
semoga dapat meringaknkan hukuman yang diterima.dan permaslahannya selesai.
Mudah-mudahan Organisasi guru baik itu PGRI maupun IGI tidak tinggal diam melihat semua ini. Begitu Juga Organisasi kepramukaan.
Mudah-mudahan Organisasi guru baik itu PGRI maupun IGI tidak tinggal diam melihat semua ini. Begitu Juga Organisasi kepramukaan.
Tragedi susur sungai menjadi
pelajaran yang berharga bagi kita khususnya guru dan pembina pramuka. Namun
jangan sampai menyurutkan para siswa untuk mengikuti kegiatan pramuka. Pramuka kegiatan yang banyak manfaatnya. Dari
pendidikan karakter sampai seni budaya ada pada organisasi ini. Semoga pihak
aparat dan hukum akan mempertimbangkannya. Lali dalam bertugas berbeda dengan
kejahatan yang direncanakan #Save bapak
guru dan pembina pramuka SMPN 1 Turi Sleman.
Semoga diberikan yang terbaik, dan keadilanpun di tegakkan . kepad orang tua
siswa yang terkena musibah semoga di beri kesabaran, dan ketabahan karean pada
dasrnya kita semua akan kembali pada yang kuasa hanya tinggal menunggu waktu
yang tepat, entai bagaimana jalannya. Semoga kita kembali padanya dalam keadaan
husnul khotimah, aamiin.

aamiin
BalasHapusItulah hukum di negeri ini... Tumpul ke atas dan tajam ke bawah... Belum ada keadilan. Padahal PGRI sudah mengadakan MoU dg kepolisian utk melindungi guru. Tapi nyatanya? @save guru
BalasHapus@save pembina pramuka
Jalani saja sesuai proses Tuhan melindungi para guru
BalasHapus